Sunday, 17 June 2012

Samsung si RAJA Ponsel Tumbangkan Nokia

Nokia, nama itu tidak lagi identik dengan raja ponsel. Nama Nokia juga sudah kurang menarik bagi investor setelah tiga badan pemeringkat, menurunkan peringkat saham Nokia, dua di antara tiga badan tersebut menempatkan saham Nokia  hanya setingkat di atas Junk. Bagaimana dan mengapa sebuah kejayaan yang selama empat belas tahun terakhir seperti tidak tergantikan akhirnya bisa digantikan oleh Samsung?

Bermula dari meninggalkan platform Symbian empat belas bulan yang lalu dan berpindah ke Windows Phone, Nokia harus mengakui mereka memang jauh kalah dibandingkan Samsung dalam menghasilkan jumlah ponsel. Dalam catatan analis, di kuartal pertama Samsung mengapalkan 93,5 juta ponsel (terdiri dari feature phone dan smartphone), sedangkan Nokia hanya 82,7 juta ponsel. Samsung mengalami pertumbuhan sebesar 36% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu, sedangkan Nokia tentu saja mengalami pertumbuhan negatif.


KARENA MUTU DAN KUALITAS SAMSUNG YANG SUDAH UNGGUL TERHADAP NOKIA, PEMASARAN NOKIA MENURUN


Samsung memproduksi berbagai komponen elektronik hp untuk merk lain seperti Nokia dan Apple.


Tantangannya tentu saja bukan hanya dari Android, BlackBerry yang merupakan platform ketiga yang masih banyak peminatnya di AS, terutama kalangan enterprise bisa menjadi batu sandungan tersendiri. Meskipun tertatih, namun BlackBerry telah keluar menuju pasar-pasar yang baru tumbuh (emerging markets seperti Indonesia untuk lebih dahulu menancapkan dominasinya sebelum Nokia datang dengan seri Nokia Lumia yang lebih murah.
Tentunya tidak akan mudah bagi Nokia merebut posisi sebagai raja ponsel dari Samsung. Dengan kombinasi banyak faktor tersebut di atas, butuh usaha super keras dari Nokia (dan juga Microsoft) untuk bisa dilirik oleh konsumen. Jika usaha Nokia kurang, kejayaan Nokia bisa saja sudah berakhir untuk selamanya.

Perusahaan telepon genggam Nokia mengumumkan kerugian besar di kuartal pertama tahun ini. Nokia mengungkapkan kerugian bersih selama tiga bulan pertama 2012 mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp11 triliun.

Kepala Eksekutif Nokia, Stephen Elop, mengatakan perusahaannya menghadapi persaingan yang jauh lebih ketat dari perusahaan-perusahaan lain.

"Selama setahun terakhir strategi yang kami terapkan telah membuahkan hasil. Namun tantangan dan persaingan yang kami hadapi ternyata jauh lebih besar dari yang diperkirakan," kata Elop.

"Kami mencatat kinerja yang bagus di sejumlah pasar, termasuk di Amerika Serikat, namun merebut pasar-pasar lain ternyata tidak semudah yang kami kira," imbuh Elop.

Ia menjelaskan perubahan cepat di industri telekomunikasi global membuat Nokia harus terus melakukan transisi secara cepat.

Tinggalkan Symbian

"Kami mencatat kinerja yang bagus di sejumlah pasar, termasuk di Amerika Serikat, namun merebut pasar-pasar lain ternyata tidak semudah yang kami kira."
Stephen Elop

Di bawah kepemimpinan Elop, Nokia melakukan perubahan dengan perlahan-lahan meninggalkan sistem operasi Symbian dan memasang Windows di telepon genggam pintar mereka.

Diberi nama Lumia, Nokia meluncurkan telepon genggam bersistem operasi Windows pada Oktober tahun lalu.

Para analis mengatakan Lumia belum berhasil mengukuhkan posisi di pasar telepon genggam pintar karena data menunjukkan penjualan ponsel kelas ini turun menjadi 12 juta unit di kuartal pertama tahun ini, sementara setahun sebelumnya Nokia berhasil menjual 24 juta ponsel pintar.

Secara keseluruhan Nokia menjual 83 juta ponsel di periode tersebut, turun dari 108 juta yang dijual Nokia pada 2011.

Menanggapi lesunya tanggapan konsumen terhadap Lumia -yang terjual dua juta unit di seluruh dunia- Elop mengatakan ini menjadi isyarat jelas bahwa Nokia perlu menerapkan strategi dengan lebih agresif.

Nokia masih menjadi pembuat telepon genggam terbesar di dunia, namun popularitas telepon genggam pintar buatan Samsung dan Apple membuat penguasaan pasar Nokia terus menciut.

Samsung tampaknya semakin optimis dengan keberhasilan yang digenggamnya, sebagai pembuat handset nomor 2 di dunia. Bahkan tahun ini, perusahaan asal Korea Selatan tersebut yakin menjadi pembuat ponsel terbesar, mengalahkan dominasi Nokia.
Keyakinan itu bahkan terlihat dari pernyataan Chief Executive Samsung, Choi Gee-sung, "Apa gunanya menjual USD20 ponsel, jika penjualan kami sudah di atas Nokia tahun lalu. Bahkan keuntungan pun juga lebih tinggi."

Bahkan Choi mengatakan pada wartawan, seperti dilansir Reuters, Rabu (11/1/2012), Samsung yakin tahun ini akan menjadi pembuat ponsel terbesar di dunia, mengakhiri 14 tahun kekuasaan Nokia di pasar handset mobile.

Maka dengan kesuksesannya, Samsung kini akan lebih fokus meningkatkan keuntungannya ."Kompetisi akan datang dari tempat yang lain. Ada yang lebih banyak membuat keuntungan daripada kita, maka target kami harus pindah ke sini," ujar Choi.

Samsung memang berhasil menjadi produsen smartphone terbesar pada kuartal ketiga 2011, yang dengan cepat membangun keberhasilan dengan desain 'ramping' dan line-up produknya.

Meskipun demikian, Apple tetap masih menjadi pembuat smartphone yang paling banyak menghasilkan keuntungan, dengan menawarkan gross margin 40 persen. Sebagi perbandingan, divisi ponsel Samsung telah melaporkan marginnya sebesar 17 persen.

Terlepas dari itu semua, Apple merupakan klien terbesar Samsung terutama untuk chip dan layar datar serta sekaligus sainggannya. Seperti diketahui kedua perusahaan ini memang sedang terlibat perang paten secara global.


sumber 
sumber 
sumber 
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komentar yang baik akan diterima secara baik juga

 
Design by Aldo Wildan Firdaus | Bloggerized by Aldo Wildan Firdaus - Premium Blogger Themes | Online Project management